Bila tak sanggup mengungkapkan lewat ucapan kata.. maka masih ada mata yang mampu menafsirkan setiap cerminan hati seseorang..
Ketika jenuh mulai menguasai pikiran, bertarung demi berusaha melumpuhkan secercah semangat dan harapan yang telah dibangun perlahan..maka terasa bagaikan tak ada lagi cahaya titik yang sanggup menghapus kabut kegelapan yang menyelimuti sistem pikiran yang hakiki.
Maka ketika hal itu terjadi.. aku lebih memilih untuk menghentikan langkahku dan berdiam sesaat..
Bukan menyerah.. melainkan mencoba mengumpulkan semangat dan starter baru untuk kembali melangkah..
namun..
berulangkali ku mencari dan mencari.. tetap saja , ku tak bisa menemukan sorot mata yang tegas itu selain darinya..
Setiap milisekon yang kulalui.. dahulu aku merasakan detik-detik itu bagaikan neraka yang setiap saat membakar bathin yang penuh sesal.. bahkan setiap nafas yang kuhembus begitupun oxygen yang kuhirup, aku merasa ingin cepat melewati semua ini dan berharap agar esok hari tak pernah datang dalam hidupku.. sehingga ku tak perlu untuk khawatir akan hari esok..
tapi, sejak sorot mata itu datang padaku.. menghentikan langkahku.. seolah-olah detik bumi ini pun seketika terhenti..
sorot mata itu bagaikan setitik cahaya yang menunjukkanku pada hakikat kebahagiaan yang terabaikan waktu.. membuatku tersadar bahwa hidup bukanlah hanya untuk masa lalu.. tapi ada masa depan yang siap menyambut jiwa-jiwa kesepian dan benci pengkhianatan.
Sorot mata tegas itu seakan membuat denyut nadiku terhenti..
merasakan bahwa kubutuh sesuatu yang sanggup membuatku damai di setiap saat..
menyadarkanku bahwa aku tak sendiri lagi di bumi ini..
Sorot mata itu..
membuat siangku menjadi malam
malamku menjadi siang..
ketegasan dan kelembutan sorot mata itu membuat matahari-ku terbit di ufuk yang berbeda
dan senjaku yang tengah terbit di pagi hari..
bila tak sanggup pula untuk melakukannya, maka masih ada lidah.. bukan lidah yang menjadi bagian dari sistem indra.. melainkan lidah yang menjadi tangan kedua dari hati.. itu adalah lidah jiwa..Pena adalah lidahnya jiwa.. tak smua orang pandai berucap merangkai kiasan bermakna yang dapat mencairkan setiap nurani yang beku, menenangkan jiwa yang mencari kedamaian, menyulut setiap semangat yang tertinggal di batas akhir keputus-asaan dan kegagalan..
Ketika jenuh mulai menguasai pikiran, bertarung demi berusaha melumpuhkan secercah semangat dan harapan yang telah dibangun perlahan..maka terasa bagaikan tak ada lagi cahaya titik yang sanggup menghapus kabut kegelapan yang menyelimuti sistem pikiran yang hakiki.
Maka ketika hal itu terjadi.. aku lebih memilih untuk menghentikan langkahku dan berdiam sesaat..
Bukan menyerah.. melainkan mencoba mengumpulkan semangat dan starter baru untuk kembali melangkah..
namun..
disaat yang semua lakukan terlihat begitu membosankan.. maka aku lebih suka untuk mencari 'sorot mata itu'..Tak setiap pasang mata di bumi ini memiliki mata yang tegas..
berulangkali ku mencari dan mencari.. tetap saja , ku tak bisa menemukan sorot mata yang tegas itu selain darinya..
Setiap milisekon yang kulalui.. dahulu aku merasakan detik-detik itu bagaikan neraka yang setiap saat membakar bathin yang penuh sesal.. bahkan setiap nafas yang kuhembus begitupun oxygen yang kuhirup, aku merasa ingin cepat melewati semua ini dan berharap agar esok hari tak pernah datang dalam hidupku.. sehingga ku tak perlu untuk khawatir akan hari esok..
tapi, sejak sorot mata itu datang padaku.. menghentikan langkahku.. seolah-olah detik bumi ini pun seketika terhenti..
sorot mata itu bagaikan setitik cahaya yang menunjukkanku pada hakikat kebahagiaan yang terabaikan waktu.. membuatku tersadar bahwa hidup bukanlah hanya untuk masa lalu.. tapi ada masa depan yang siap menyambut jiwa-jiwa kesepian dan benci pengkhianatan.
Sorot mata tegas itu seakan membuat denyut nadiku terhenti..
merasakan bahwa kubutuh sesuatu yang sanggup membuatku damai di setiap saat..
menyadarkanku bahwa aku tak sendiri lagi di bumi ini..
Sorot mata itu..
membuat siangku menjadi malam
malamku menjadi siang..
ketegasan dan kelembutan sorot mata itu membuat matahari-ku terbit di ufuk yang berbeda
dan senjaku yang tengah terbit di pagi hari..
di setiap detik yang kulalui berikut setiap detakan jantung yang terasa menghidupkanku..hingga suatu saat nanti bila ku tak lagi sanggup mendengar, melihat, merasakan lagi tegasnya hidup.. aku masih bisa mengingat sorot mata itu dalam memoriku yang tersisa..
aku berharap agar aku masih diberi kesempatan untuk mengenal sorot mata itu..
kuharap dia menyadari bahwa sorot mata itu adalah benar miliknyaa


0 comments:
Post a Comment