Monday, January 21, 2013

i am not too brave to say this...

sangat lucu memang.. ketika kita jatuh cinta, seolah nampak logika tertutupi oleh perasaan. padahal kenyataan menunjukkan bahwa hal berbeda. para pemuja cintalah yang tanpa sengaja mengedepankan perasaan mereka, tanpa mengimbanginya dengan bobot akal sehat. yiaa.. namanya juga perasaan.. ga punya tombol dan ga bisa diatur semaunya. setuju???

ada banyak hal yang tidak orang ketahui tentang pola kehidupan. Dan ada pula banyak orang yang bahkan hanya sekedar menjalani kehidupan tanpa tahu makna dibalik detik yang dilaluinya dan mereka sebut kehidupan dengan cara "let it flow". Jadi, mau nge-flow kemana aja ga masalah.. yang penting tetep nge-flow walau tanpa arah. It looks like funny, that's the fact around us.

.. dan ada banyak jutaan pasang mata di luar sana yang hanya sekedar melihat dengan matanya, tanpa pernah belajar dan berfikir dari apa yang dilihatnya. Mereka hanya sekedar mendengar, tanpa ingin tau arti nyata dari setiap kata- kata yang didengar. Ada juga sebagian orang yang hanya berbicara omong kosong, membual banyak hal, hanya ingin terlihat berbeda dari yang lain. Padahal terkadang mereka sendiri tak paham apa yang mereka bicarakan.. 

Tapi..
diantara sekian human sapiens yang aku temui. Ada satu orang yang sangat menarik. Luar biasa menarik, bukan karena kecerdasannya, tapi karena ada satu hal yang membuatnya terlihat berbeda.. ya.. mungkin terlihat biasa di mata orang, tapi apapun opini mereka, bagiku yang terpenting adalah pandanganku dari sisi yang berbeda tentangnya.

Aku tidak pernah mengenalnya secara intensif sebelumnya. yang kutau, hanyalah namanya. sekedar nama. tanpa ada tambahan keterangan apapun.

Diawali sebuah hari di awal tahun, dan berlanjut hingga menuju penghujung terakhir.
selama lebih dari enam bulan, aku sengaja menyibukkan diriku untuk melakukan riset dan observasi secara diam- diam tentang apapun. Terkesan seperti orang yang kurang kegiatan (padahal tugas kayak banjir dan air bah yang ga berhenti datang). hanya dengan mengandalkan rasa ingin tahu  alias "kepo tingkat dewa", aku beranikan diri untuk mencari celah dari berbagai segi tentangnya. Tanpa bermaksud untuk melukai siapapun, aku mulai sebuah pilihan yang ternyata membuka pintu lain dalam hidupku tentang apa yang disebut dengan "penempatan sikap dan diri".

baiklah..
setelah sekian lama aku jaani semua ini, bersama dengan orang yang aku inginkan. Perlahan namun pasti, aku mulai bisa mendengar, melihat, dan merasakan siapa dia yang sesungguhnya. Aku mulai mengenalnya sebagai sosok yang berbeda dari yang kubayangkan sebelumnya.

Ada banyak sisi yang tidak aku ketahui tentang dia. tentang bagaimana masa lalunya dan bagaimana dia yang sebenarnya. Bagaimana caranya berbicara, mengamati, dan berpikir juga yang tak kalah pentingnya adalah mengomentari tentang sikap dan kepribadianku. Sangat menakjubkan, bukan? Karena selama ini, aku berpikir bahwa tidak ada satupun orang terdekatku (termasuk keluargaku) yang berani mengomentari tentang diriku. Karena mereka tau bahwa aku bukanlah gadis yang suka "didikte" ini dan itu. Mereka mengerti karena aku punya masa lalu yang tak menyenangkan, hingga mejadikanku sebagai manusia yang cenderung untuk berjalan terus ke depan dengan memegang teguh prinsip- prinsip hidup yang aku yakini benar adanya.

Tapi, tiba- tiba di suatu malam,
aku harus mendengar evaluasi kepribadianku yang dilontarkan oleh seorang makhluk bumi yang paling aku sayangi. Bingung, kaget, dan rasanya tak percaya hal ini dilakukan oleh dirinya. Apa yang bisa kulakukan??
Aku hanya tersenyum.. diam.. mengangguk "IYA" sambil berbisik dalam hati:
Wahai kekasihku, setengah dari detak jantungku.. Silahkan kau komentari diriku yang penuh kekurangan ini. Asalkan kau tau, aku begini, karena inilah aku yang apa adanya.. Tanpa mengurangi rasa hormat sedikitpun, aku ingin juga kau menilai diriku bukan hanya dari pandanganmu saja. Cobalah, lihat dan nilai diriku ini dari sisi aku seutuhnya
Setelah kejadian ini berlangsung, dalam hitungan detik tersirat sebuah pemikiran tentang bagaimana dia menerimaku dalam hidupnya.
Apa, bagaimana, dan seberapa berartikah aku untuk dirinya..
Pertanyaan ini hanya bisa kutanyakan dalam hati, karena aku tak tau siapa yang bisa menjawab pertanyaan ini. Pada dasarnya hanya WAKTU yang bisa membuktikan kebenaran perasaanmu padaku..

2 comments:

f said...

hey, saudara bisa menulis dengan kata-kata sedemikian rupa, yang hampir tidak pernah saya dengar dan atau baca sebelumnya

ayo lanjutkan menulisnya

Desty Nurbaety said...

hhahaa... thank you, fathiir.... :)

tunggu tulisanku berikutnya ya..

Post a Comment